Ustad Badrol


Ustadz adalah label suci yang disematkan oleh masayarakat disekitarnya kepada seseorang yang dianggap mempunyai spiritual lebih, taat beribadah, dan patut dijadikan teladan dari berbagai segi; tindakan, perkataan dan prinsip hdupnya. Namun faktanya tidak demikian, terbukti ada beberapa kasus seorang ustadz justru meminta imbalan yang tak layak atas jasa yang telah diberikan kepadanya, entah berupa pengobatan atau diundang untuk memberikan nasehat agama atau lebih tepatnya ustadz bandrol 

Sudah kita ketahui bersama bahwa pe-labelan ustadz bukanlah pelabelan yang mempunyai standar tertentu berdasarkan konvensi atau ujian layaknya gelar kesarjanaan, juga bukan hasil rapat masyarakat sekitar, karena itu bisa saja mereka mendapat gelar tersebut lantaran dibranding oleh media massa, oleh karena itu kita mesti sadar dan pandai-pandai dalam menilainya. Akhir-akhir ini banyak bermunculan orang orang yang bangga dengan dipanggil ‘pak usatadz’ hanya dengan modal berbaju muslim dengan kalung surban, rajin sholat dan adzan di mushollah kemudian dipanggil pak ustadz, lebih geli lagi jika kemudian sudah enggan belajar padahal secara materi ilmu keagamaan mininm hehe..

Amat rendahlan seorang ustadz yang demikian, jika seorang ustadz adalah seorang ‘ulama yang notabenenya adalah sebagai pewaris Nabi (waratsatul anbiya’) meskipun jika terkadang penulis juga berfikir bahwa Nabi tidaklah diperintah untuk berdakwah, yang diperintah berdakwah adalah seorang Rasul. Dengan kata lain profesi ustadz lebih mendekati sebagai pewaris para Rasul. Tidaklah penting masalah itu, yang terpenting adalah akhlak mereka dalam memberi imbalan dengan bandrol tertentu yang diatur oleh seorang menejer. Dalam tulisan ini akan kami bedakan manakah yang termasuk ulama’ul akhirat dan ulama’ yang jahat (ulama suu’)

Tulisan ini hanya ingin memberikan penderahan kepada pembaca untuk membuka mata dengan lebar bagaimana cara membedakannya antara ulama’ akhirat dengan ulama’ suu’.Mereka tidak bisa diketahui secara pasti karena berkaitan dengan sifat bathiniyah, tetapi meski demikian para ulama’ tasawuf memberikan ciri cirinya,

Ciri Ulama’ akhirat adalah ustadz/ulama’ yang selalu melakukan tugasnya semata-mata karena Allah dan tidak ada embel-embel duniawiyah yang ada pada dirinya, dirinya mempunyai tanda berprilaku baik, tawadhu’, penuh rasa takut ancaman Allah, zuhud, qona’ah dengan yang sedikit, rajin berinfak dengan kelebihan hartanya, memberi nasehat, penyayang kepada orang lain, tidak tama’, tidak sombong dan tidak rakus terhadap bendawiy dan sederet sifat lainnya. Ulama’ model seperti ini adalah dambaan surga, ia dijanjikan oleh Allah sebagai penghuni surga yang penuh dengan kenikmatan.

Adapun ciri ulama’ suu’ ulama’ yang jahat adalah ulama’ yang berprofesi sebagai da’i tetapi tidak menginginkan dakwah sebut saja alim di lisan tetapi hatinya munafiq, ia membaca qur’an tetapi bacaannya tidak sampai melewati tenggorokannya, hambar dan jauh dari kemantapan dalam berucap. Suka dengan materi, memberikan target dari jasa ceramah yang diberikan. Ulama’ semacam ini sudah beredar di sekitar kita karena itu waspadalah terhadap ustadz badrol. Semoga kita semua dijauhkan darinya, mungkin inilah yang dikatakan oleh Umar ra, sebagai prediksi tanda akhir zaman
إنى أخوف ما أخاف عليكم منافق عالم بالسان
Sesungguhnya yang paling aku takutkan kepada kalian adalah orang munafik yang ‘alim lisannya
Site MeterTopBlogIndonesia.comping fast  my blog, website, or RSS feed for Freeblog search directory